Istiqomah Setelah Ramadan

Ramadan telah berlalu, akan tetapi mengerjakan ketaatan kepada Allah tidak berhenti sampai ajal menjemput. Maka dari itu, penting untuk kita istiqomah setelah bulan Ramadan, mengapa?

  1. Bagi seorang muslim tidak ada batas dalam beribadah untuk mengerjakan amal shalih kecuali kematian.

    Seperti perkataan Hasan Al-Bashri rahimahullah,
    ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.”


    Lalu Al Hasan membaca firman Allah,

    وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

    “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” [QS. Al-Hijr: 99]
    Tidak ada garis finish ibadah seorang muslim sebelum meninggal.


    Abdullah bin mas’ud rahimahullah mengatakan,
    “Jika engkau telah selesai melaksanakan shalat-shalat wajib, maka jangan berhenti disitu, teruslah beribadah melakukan amalan-amalan sunnah lainnya.”

    Ketika seorang muslim selama sebulan sudah terbiasa shalat malam, mengerjakan amal-amal shalih. Namun ternyata, di malam pertama Ramadan pergi, dia meninggalkan shalat malam walau hanya 1 rakaat.

    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya,
    “Wahai imam, kapankah waktu istirahat itu?” Beliau jawab: “(istirahat yg sesungguhnya ialah) pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

  2. Istiqomah termasuk perintah Allah ‘azza wajalla dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
    Dalam surah Hud ayat 112,
    فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ
    “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

    Wajar kalau seandainya 10 hari terakhir seorang muslim memperbanyak ibadahnya, kemudian setelah Ramadan berkurang. Akan tetapi yang tidak wajar adalah benar-benar terputus, sudah lupa dengan Al-Quran nya dan ibadahnya.

    Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
    ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

    Disebutkan dalam surah Al-Ahqaf ayat 13 keistimewaan orang istiqomah,

    اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

    Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

  3. Sebesar amalan apapun yang kita lakukan di bulan Ramadan, belum tentu diterima oleh Allah.
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi membawa berita yang benar, 

    رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

    “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” [HR. Ath Thobroniy]

    Kita tidak tau apakah amalan kita selama 1 bulan atau bahkan di 10 hari terakhir bulan puasa diterima oleh Allah. Mengetahui amalan diterima atau tidaknya, hanya Allah Yang Mengetahui. Maka sifat orang-orang shalih setelah beramal, di dalam hati mereka takut amal mereka tidak diterima oleh Allah. Bahkan seorang Nabi, yang dijuluki khailullah (kekasih Allah) yang sudah pasti Allah ijabah doanya, namun tetap berdoa untuk diterima doanya:

    رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

    Artinya : “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
    [QS. Ibrahim : 40],

    dan juga dalam surah lainnya,

    وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

    Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
    [QS. Al-Baqarah : 127].

    Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
    “Jadilah kalian untuk diterimanya amal ibadah lebih perhatian dibanding dengan amal itu sendiri.”

    Jangan pernah merasa banyak amal, ujub, karna hanya hak Allah, Dia yang pantas untuk seseorang diterima amalnya atau tidak, dan Allah hanya menerima amal untuk orang-orang yang bertakwa.

    Ada seorang ulama berkata ketika ada yang bertanya kepada beliau,“Sesungguhnya ada orang-orang yang cuma semangat ibadah di dalam bulan ramadan. Hanya ke masjid, membaca quran, shalat berjamaah dalam bulan ramadan saja. Sungguh buruk seorang hamba yang hanya mengenal hak-hak Allah dalam bulan ramadan saja.”

  4. Yang menjadi ukuran bagi seorang muslim adalah akhir hidupnya, bukan awal hidupnya.

    Dalam sebuah riwayat hadits at-Tirmidzi, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Sesungguhnya Allah jika menginginkan untuk hamba-Nya kebaikan, maka Allah akan memaniskan hidupnya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah memaniskan hidupnya ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Allah akan memberikan petunjuk kepada orang tersebut untuk beramal ibadah sebelum dia meninggal.”


    Ada seseorang yang telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam pandangan orang-orang, namun ia menjadi penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka dalam pandangan orang-orang, namun ia menjadi penghuni surga.

Kita berdoa kepada Allah ‘azza wajalla, semoga Allah tetapkan hati kita untuk mengerjakan ketaatan sampai datangnya ajal.

📝 Kajian Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. - Khutbah Jumat: Kenapa Harus Istiqomah Setelah Ramadhan?

Previous
Previous

Doakan Kedua Orang Tuamu

Next
Next

Semangat Seorang Muslim di Penghujung Ramadan